Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Mendidik Generasi Milenial
Oleh : Purwantiningsih 
Guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Kepanjen



Pengantar
     Saat istirahat selepas melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)  adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh guru. Betapa tidak, pada saat itulah guru akan bercanda untuk sekedar melepaskan penat, berbagi pengalaman mengajar dengan sesama guru, berkeluh kesah, membicarakan keberhasilan atau ketidakberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Kalimat yang sering muncul pada saat itu adalah pertanyaan retoris, yang sebenarnya ditujukan untuk diri kita sendiri sebagai guru. Mengapa anak-anak sekarang sulit diatur, sulit menerima pelajaran, suka membangkang, meremehkan guru, bahkan banyak yang “melarikan diri” saat KBM dengan berbagai alasan. Tidak seperti zaman kita dulu, anak didik begitu tawadu’ pada guru, apapun yang diperintahkan oleh guru mereka akan langsung mengerjakannya tanpa banyak bertanya. Kelas pun begitu tenang, tertib, tanpa banyak yang bicara. Guru dengan leluasa memainkan perannya sebagai sutradara dan pemeran utama.
     Untuk sejenak kita lupa bahwa zaman kita dengan mereka sudah berbeda. Menjadi guru pada zaman dulu berbeda dengan menjadi guru zaman sekarang. Yang dihadapi berbeda, tuntutan zaman pun juga berbeda. Yang masih sama adalah predikat guru.
     Guru, Kudu bisa digugu lan ditiru. Digugu berarti dipercaya dan ditiru berarti diteladani atau dicontoh. Menjadi guru berarti harus bisa dipercaya dan memiliki tingkah laku yang dapat  diteladani. Seperti kata Sang Maestro Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, bahwa sosok seorang guru harus bisa Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Sebuah kalimat yang memiliki makna sangat dalam. Kata guru dalam bahasa jawa memiliki makna yang tidak hanya tersurat dalam kata, namun juga tersirat dibalik kata. Sungguh sebuah kata yang bermakna luar biasa. Dapatkah kita sebagai guru mengimplementasikannya? Kalau pertanyaannya dapatkah, maka tentu saja jawabannya adalah dapat, karena sejak awal tentu kita sudah nawaitu untuk menjadi guru. Namun, dapat saja belum cukup, karena tolok ukur sebenarnya adalah kualitas  kinerja kita sebagai guru, sudahkah dapat digugu dan ditiru? Mampukah kita memahami bahwa anak didik zaman dulu berbeda dengan anak didik zaman sekarang?

Abad 21
     Rosyada mengatakan bahwa saat ini kita berada di abad 21. Abad ini  merupakan awal milenium ketiga dalam sejarah umat manusia. Pada milenium ini dunia melakukan banyak perubahan kebijakan hubungan antar negara. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa setiap kepala negara  menyadari bahwa setiap negara tidak akan sanggup mencukupi kebutuhan dan permintaan warganya, dan setiap negara harus bersama-sama mengelola dunia untuk warga dunia. Tidak semua negara memiliki semua yang dibutuhkan warganya. Ada negara yang kuat di sektor pertanian, namun lemah di cadangan mineral. Ada negara yang kuat dalam cadangan mineral, namun sebaliknya lemah dalam pertanian. Bahkan ada yang kuat dalam cadangan kekayaan alam, kuat dalam pertanian, tapi lemah dalam penguasaan teknologi. Kondisi demikian menyebabkan negara-negara berada dalam kondisi saling membutuhkan satu sama lain, khususnya untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya, termasuk Indonesia (2017). Hal inilah yang menyebabkan pentingnya hubungan bilateral maupun multilateral antar negara.
     Pada milenium ketiga ini, dimana para remaja dan pelajar disebut sebagai generasi milenial, berada pada masa “mendunia”. Segala bentuk transformasi budaya, bahasa, dan teknologi akan dengan mudahnya masuk ke negara kita. Hal inilah yang menyebabkan anak didik zaman sekarang berbeda dengan anak didik zaman dulu. Generasi milineal mengalami banyak perubahan psikologis dan sosiokultural akibat kemajuan teknologi.
     Dengan semakin terbukanya hubungan antar negara di era global ini, maka akan semakin besar pula pengaruhnya pada sektor pendidikan. Guru harus bisa  mempersiapkan anak didiknya untuk menghadapi milenium ketiga ini. Guru harus mendesain pembelajaran sedemikian rupa hingga anak didiknya yang nota bene adalah generasi milenial memiliki keterampilan abad 21. Keterampilan tersebut adalah sebagai berikut.

1.    Mampu berkolaborasi dengan siapa saja. Oleh karena itu mereka harus memilki kompetensi menghargai perbedaan dengan baik, pengetahuan, sikap, dan tindakan.
2.    Mampu berkomunikasi global, mampu menggunakan bahasa yang bisa difahami oleh masyarakat dunia, baik komunikasi verbal, maupun tulisan.
3.    Mampu menguasai teknologi informasi dengan baik, untuk akses informasi, komunikasi, penyampaian informasia untuk menyimpan data yang bisa dibuka setiap setiap saat, dan bisa diakses kapan saja, di mana saja, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai media yang sangat membantu dalam proses pembelajaran.
4.    Mampu berfikir kritis, mengubah masalah menjadi kesempatan untuk maju, berfikir kreatif inovatif dan bahkan memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dengan baik, yang semua ini bisa dikembangkan dengan pelatihan yang terintegrasi dalam proses pembelajaran, atau dalam kegiatan ekstra kurikuler.

     Jika anak didik kita diharapkan memilki keterampilan abad 21, maka guru pun juga demikian. Guru harus terus mengembangkan diri, guru pun harus terus belajar, memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi infrormasi, berlomba dengan waktu, agar tidak ditinggal oleh waktu. Jangan hanya memberi tugas anak didik untuk membaca dan menulis. Guru pun harus membaca dan menulis. Mari mendidik  anak-anak kita sesuai dengan zamannya. Jangan terjebak oleh kemapanan yang sudah kita nikmati saat ini.
     Sebagai guru, kita harus faham bahwa anak didik kita mengalami banyak perubahan.  Seperti yang dikemukakan oleh Rosyada (2017) bahwa pelajar mengalami perubahan yang disebabkan oleh semakin tumbuh dan berkembangnya teknologi. Perubahan-perubahan tersebut, antara lain adalah sebagai berikut. 
1.   Anak didik menyukai adanya kontrol. Generasi milenial tidak menyukai terikat oleh jadwal- dan juga tidak menyukai duduk di dalam kelas untuk belajar.  Sebaliknya mereka lebih menyukai belajar mandiri dengan menggunakan alat komunikasi yang bisa menjangkau dunia yang tak terbatas. Dengan caranya sendiri, mereka akan memperoleh informasi dari berbagai sumber di dunia. Dengan demikian, mereka harus dikontrol target pencapaian pengetahuannya, proses belajarnya dan hasil yang mereka dapatkan.
2. Anak didik juga menyukai banyak pilihan. Untuk pembelajaran berbasis project, yakni tugas melakukan mini riset, mereka akan menggunakan teknologi untuk memperoleh banyak informasi. Mereka harus diberi kebebasan untuk memilih metode dan teknik-teknik untuk untuk menyelesaikan project tersebut sampai pada akhirnya mereka  akan mampu menyusun laporan.
3.  Anak didik menyukai ikatan kelompok dan ikatan sosial, yang dibangun melalui media sosial mereka. Mereka memiliki jejaring  yang dinamis, dan jika mereka manfaatkan untuk menjadikan jejaringnya sebagai peer assesment, maka mereka akan memiliki pengelaman keilmuan yang jauh lebih baik, daripada tutorial atau mentoring dalam satu kelas saja. 4. Anak didik terbiasa dengan teknologi digital.
5.    Anak didik tidak berfikir tentang teknologi tetapi bagaimana menggunakan teknologi.
6.   Anak didik lebih menyukai eksperimen dalam pemanfaatan teknologi, jika gagal dalam satu kali penggunaan, mereka akan coba lagi, dan terus mencoba sampai mereka berhasil.

Guru Harus Profesional
     Bertolak dari perubahan yang terjadi pada anak didik, maka guru harus profesional dalam menyiapkan anak didik agar mereka siap menjadi generasi milenial yang menguasai berbagai keterampilan abad 21.
      Mulyasa mengatakan bahwa menjadi guru profesional harus memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogig, kepribadian, profesional, dan sosial (2011:27).
   Kompetensi pedagogig berkaitan dengan kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran. Kompetensi kepribadian berkaitan dengan kepribadian yang harus dimiliki oleh seorang guru yaitu mantab, stabil, dewasa disiplin, berwibawa, berakhlak mulia serta dapat menjadi teladan bagi anak didiknya. Kompetensi profesional berkaitan dengan penguasaan disiplin keilmuan yang dimiliki guru untuk memilah dan memilih materi pembelajaran. Sedangkan kompetensi sosial berkaitan erat dengan kemampuan guru menjalin komunikasi dengan masyarakat serta guru sebagai agen perubahan sosial. Empat kompetensi inilah yang menjadikan guru sebagai sosok yang bisa digugu dan ditiru.
    Wacana tentang profesionalisme guru kini menjadi sesuatu yang mengemuka ke ruang publik seiring dengan tuntutan untuk meningkatkan mutu pendidikan di tanah air. Oleh banyak kalangan mutu pendidikan kita dianggap masih rendah karena beberapa indikator diantaranya adalah  lulusan dari sekolah dan perguruan tinggi yang belum siap memasuki dunia kerja karena minimnya kompetensi yang dimiliki. Bekal kecakapan yang diperoleh di lembaga pendidikan belum memadai untuk digunakan secara mandiri, karena yang terjadi di lembaga pendidikan hanya transfer of knowledge semata yang mengakibatkan anak didik tidak inovatif, kreatif bahkan tidak pandai dalam menyiasati persoalan-persoalan di seputar lingkungannya. Belum lagi maraknya kasus bullying guru oleh anak didik dan sebaliknya. Ini membuktikan bahwa tujuan pendidikan untuk membentuk watak budi pekerti yang mulia belum sepenuhnya bisa diwujudkan.
     Guru menjadi fokus utama dari kritik-kritik atas rendahnya mutu pendidikan, namun pada sisi lain guru juga menjadi sosok yang paling diharapkan dapat mereformasi pendidikan, menjadi agen perubahan yang mampu menumbuhkembangkan karakter mulia anak didiknya. Guru menjadi mata rantai terpenting yang menghubungkan antara pengajaran, pendidikan dengan harapan akan masa depan pendidikan yang lebih baik.

Bagaimana Mendidik Generasi Milenial?
Ternyata menjadi guru profesional saja tidak cukup untuk menyiapkan generasi milenial menguasa keterampilan Abad 21. Peningkatan profesionalisme yang ditandai dengan sertifikasi dan tunjangan profesi, kehadiran dan jumlah jam mengajar guru di kelas belumlah cukup untuk mendidik generasi milenial. Guru harus melakukan reframing rancangan pembelajaran dan mengelola pembelajaran abad 21 yang komprehensif. Seperti yang diungkapkan oleh Supriadi (2018) bahwa pembelajaran abad 21 memiliki prinsip pokok bahwa pembelajaran harus berpusat pada siswa yang bersifat kolaboratif, kontekstual, dan berintegrasi dengan masyarakat. Guru harus menyadari bahwa hakikat pendidikan adalah mengubah cara berfikir, bersikap, bertindak serta membina keahlian yang semuanya hanya bisa dilakukan dengan pendekatan ilmu dan teknologi. Oleh karena itu, pendidik generasi milenial  harus memiliki karakter sebagai berikut.

1.        Memiliki semangat juang dan etos kerja yang tinggi disertai kualitas keimanan dan ketakwaan yang mantap.
2.        Mampu memanfaatkan iptek sesuai tuntutan lingkungan sosial dan budaya di sekitarnya.
3.        Berperilaku profesional tinggi dalam mengemban tugas dan menjalankan profesi.
4.        Memiliki wawasan ke depan yang luas dan tidak picik menghadapi permasalahan.
5.        Memiliki keteladanan moral serta rasa estetika yang tinggi.
6.        Mengembangkan prinsip kerja bersaing dan bersanding.

     Di samping harus memiliki karakter tersebut, dalam melaksanakan tugasnya guru harus ditunjang dengan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran, yakni  aspek lingkungan belajar, yakni ruang kelas yang mendukung proses pembelajaran, memiliki sudut baca, kursi dan meja belajar yang mudah diubah formasinya, perpustakaan utama, laboratorium serta sarana lain yang mendukung untuk anak didik melakukan aktivitas, baik beribadah, berolah raga, bermain, beristirahat dan juga tempat untuk makan dan minum. Sekolah juga harus memiliki konsep yang jelas tentang pengembangan profesi para guru, baik sistem peningkatan karir sesuai dengan produktifitas para guru. Sistem penugasan guru sebagai sebuah profesi, baik untuk mendidik, mendampingi anak didik belajar, mengevaluasi pencapaian belajar anak didik, dan juga perlindungan para guru dalam melaksakan tugas profesinya sebagai guru.
   Dengan demikian, proses pembelajaran memiliki dua fungsi, yakni peningkatan kompetensi berbasis ilmu dan teknologi, serta peningkatan kompetensi berbasis aktifitas belajar. Ketika guru menugaskanan anak didik untuk melakukan peer assesment, pada hakikatnya dia sedang mendorong anak didiknya untuk memahami materi yang mereka pelajari, menerimanya sebagai kebenaran baru dan membiasakannya dalam kehidupan sosial. Pada saat yang sama, guru juga melatih interpersonal mereka, melatih berkomunikasi, melatih sikap terbuka dan bahkan melatih anak didik untuk bisa menerima keberagaman.

     Dari uraian di atas jelaslah bahwa pendidikan berperan sangat strategis dalam mempersiapkan generasi milenial yang memiliki keberdayaan dan kecerdasan emosional yang tinggi serta menguasai keterampilan  Abad 21 yaitu berfikir kritis, kreatif dan inovatif, komunikatif serta kolaboratif. Sudah siapkah kita menjadi guru yang mampu menghasilkan pemimpin-pemimpin di masa depan?


DAFTAR RUJUKAN

Mulyasa, E. 2011. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Rosdakarya.

Rosyada, Dede. 2017. Menjadi Guru di Abad 21. Artikel. Https://www.uinjkt.ac.id

Supriadi, 2018. Guru dan Tantangan Pendidikan Abad 21. Artikel.




Saatnya Berbagi :
Share on Google Plus
«
Berikutnya
Posting Lebih Baru
»
Sebelumnya
Posting Lama

Komentar Facebook :

Komentar dengan Akun Google :

Tidak ada komentar:


Top