Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Style6

Model Penguatan Peduli Lingkungan

MODEL PENGUATAN PEDULI LINGKUNGAN HIDUP 
PADA MASYARAKAT CEPOKOMULYO  
MELALUI PEMBENTUKAN KAMPUNG SI DUTA 


Septita Alvira, Vania Yuni Kusvita, dan Kurniawan AP SMP Negeri 2 Kepanjen

ABSTRAK
Manusia hidup di bumi dan memanfaatkan lingkungan sekitar untuk menunjang kehidupannya. Selama interaksi antara manusia dan lingkungan seimbang, maka terdapat hubungan manusia dengan lingkungan yang harmonis. 
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak diimbangi dengan sikap bijak manusia beriteraksi dengan lingkungan. Akibatnya muncul berbagai permasalahan lingkungan. Hal ini menunjukkan rendahnya kepedulian terhadap lingkungan sehingga perlu adanya model penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat, seperti yang dilakukan oleh masyarakat Cepokomulyo melalui pembentukan Kampung si Duta.  
Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penyampelan dengan teknik purposive sampling dan random sampling. Instrumen penelitian adalah peneliti, daftar pertanyaan, dan catatan pengamatan. Pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan model mengalir: tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian: (1) model penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat Cepokomulyo melalui pembentukan Kampung si Duta adalah pendampingan dari dinas/instansi terkait, pembentukan pokja di setiap RT, mengadakan diklat sesuai kebutuhan masyarakat, (2) kendala yang dihadapi adalah belum semua warga berpartisipasi dalam kegiatan, mayoritas warga belum bisa mengurangi/menghilangkan kebiasaan merokok, warga masih membuang sampah di sungai, warga lebih suka menjual sampah pada pemulung, ayam berkeliaran, bahan pustaka di minim, serta kesulitan mengatasi sampah plastik, dan (3) upaya yang dilakukan untuk mengatasinya adalah  bermusyawarah, bergotong royong, berkoordinasi dengan isntansi terkait, serta sanksi bagi pelanggar peraturan.

Kata Kunci:       model, penguatan, lingkungan, kampung si duta
















          PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Manusia hidup di bumi dan memanfaatkan lingkungan sekitar untuk menunjang kehidupannya. Sabartiyah (2008:3) mengatakan bahwa lingkungan hidup adalah keseluruhan unsur yang ada di sekitar individu yang dapat memengaruhi kehidupan dan perkembangan individu. Lebih lanjut, Winarti (2008:1) mengatakan bahwa alam adalah sumber kehidupan dan sumber ilmu pengetahuan. Ini berarti antara manusia dan alam berhubungan erat. Manusia memenuhi kebutuhan hidupnya bergantung pada alam. 
Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, menegaskan bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia, dan perilakunya yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Ini berarti bahwa selama interaksi antara manusia dan lingkungan seimbang, maka terdapat hubungan manusia dengan lingkungan yang harmonis.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat telah berfikir maju. Namun kemajuan tersebut tidak diimbangi dengan sikap bijak berinteraksi dengan lingkungan. Saat ini wajah alam bopeng akibat ulah manusia. Hutan gundul karena pembalakan liar, akibatnya banjir dan tanah longsor. Bukan ikan yang berenang di sungai dan lautan, melainkan sampah. 
 Banyaknya permasalahan lingkungan menunjukan rendahnya kepedulian terhadap lingkungan, sehingga perlu ditanamkan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Pendidikan lingkungan hidup berperan bagi kesejahteraan hidup masyarakat. Rendahnya kepedulian pada lingkungan menjadikan masyarakat rentan merusaknya. Oleh karena itu, perlu adanya model penguatan kepedulian terhadap lingkungan dengan cara mengedukasi masyarakat untuk hidup serasi, selaras,dan seimbang dengan alam. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Cepokomulyo, yang mengedukasi masyarakat untuk peduli pada lingkungan hidup dengan membentuk Kampung si Duta. Duta adalah akronim dari edukasi adiwiyata. Jadi Kampung si Duta merupakan kampung yang mengedukasi masyarakatnya untuk memiliki karakter peduli dan berbudaya lingkungan. Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Model Penguatan Peduli Lingkungan Hidup pada Masyarakat Cepokomulyo Melalui Pembentukan Kampung si Duta”.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1)  Bagaimanakan model penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat Cepokomulyo melalui pembentukan Kampung si Duta?
2)  Apakah kendala yang dihadapi dalam penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat Cepokomulyo melalui pembentukan Kampung si Duta?
3)  Apakah upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat Cepokomulyo melalui pembentukan Kampung si Duta?

1.3 Tujuan

Tujuan dalam penelitan ini adalah sebagai berikut.
1)  Mendeskripsikan model penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat Cepokomulyo melalui pembentukan Kampung si Duta.
2)  Mendeskripsikan kendala yang dihadapi dalam penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat Cepokomulyo melalui pembentukan Kampung si Duta.
3)  Mendeskripsikan upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat Cepokomulyo melalui pembentukan Kampung si Duta.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil Penelitian ini diharakan dapat memberikan masukan bagi pemangku kebijakan bidang lingkungan hidup serta semua pihak tentang model penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat Cepokomulyo melalui pembentukan Kampung si Duta serta dapat menjadi kajian keilmuan untuk penelitian sejenis pada masa yang akan datang.

 METODE PENELITIAN

2.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Cepokomulyo Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang, tepatnya di lingkungan Rukun Warga (RW) III. Pemilihan lingkungan ini sebagai tempat penelitian didasari pada beberapa pertimbangan, di antaranya adalah: (1) lokasinya berdekatan dengan sekolah tempat peneliti belajar, (2) kondisi lingkungan yang bersih dan indah, (3) mayoritas masyarakat cepokomulyo memiliki sikap peduli  pada lingkungan sekitar, dan (4) masyarakat memiliki antusiasme yang tinggi untuk belajar serta bergotong royong menjaga kelestarian lingkungan. Penelitian dilaksanakan selama 1 (satu) minggu, dimulai pada tanggal 20 Juni 2019 sampai dengan 27 Juni 2019. 

2.2 Pemilihan Sampel Penelitian

Sugiyono (2011:56) mengatakan bahwa sampel adalah bagian dari populasi penelitian yang digunakan untuk memperkirakan hasil dari suatu penelitian. Sedangkan teknik pengambilan sampel merupakan cara-cara yang digunakan untuk pengambilan sampel.
Sampel penelitian ini adalah stake holder (pemangku kepentingan) di lingkungan kelurahan Cepokomulyo, meliputi: (1) Kepala Kelurahan Cepokomulyo, (2) Ketua RW III Cepokomulyo, dan (3) masyarakat di lingkungan RW III Cepokomuyo.
Pemilihan sampel menggunakan 2 (dua) cara yaitu purposive sampling (sampel bertujuan) yaitu pada Kepala kelurahan Cepokomulyo dan Ketua RW III Cepokomulyo dan random sampling (sampel acak) pada masyarakat Cepokomulyo. Cara pemilihan sampel ini didasarkan pada tujuan penelitian yang telah ditetapkan. 

2.3 Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini mengunakan metode deskriptif kualitatif yaitu metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menyajikan fakta-fakta atau keadaan atau gejala secara apa adanya pada saat penelitian dilaksanakan serta dilakukan pada kondisi objek yang alamiah dimana peneliti sebagai instrumen kunci (Sugiyono. 2010:3).
Penelitian dilakukan melalui 3 (tiga) tahap, yaitu (1) persiapan (menentukan judul sesuai tema, narasumber, daftar pertanyaan wawancara, membuat janji wawancara dengan narasumber), (2) pelaksanaan (pengumpulan data dengan membawa instrumen penelitian, alat tulis, kamera, perekam suara), dan (3) penyusunan laporan. Instrumen atau alat penelitian yang digunakan adalah peneliti sendiri sebagai instrumen kunci, daftar pertanyaan wawancara, serta catatan pengamatan .
Karena penelitian ini menggunakan merode deskriptif kualitatif maka terdapat beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Observasi atau pengamatan dilaksanakan untuk mengamati secara langsung objek penelitian, baik berupa bentuk kegiatan yang dilaksankan maupun keadaan lingkungan serta sarana dan prasarana. Wawancara adalah tanya jawab yang dilakukan secara langsung dan sistematis antara peneliti dengan narasumber untuk mendapatkan data sesuai tujuan penelitian. Sedangkan studi dokumentasi adalah menganalisis catatan peristiwa yang telah berlalu. Dokumen  bisa berbentuk tulisan, foto, atau hasil karya (Sugiyono, 2010:82)

2.4 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data menggunakan model mengalir (Sugiyono. 2010:88) yaitu: (1) tahap reduksi data, (2) tahap penyajian data, dan (3) tahap penarikan kesimpulan. Reduksi data adalah mengelompokkan, membuang yang tidak perlu dan menata data sedemikian rupa hingga dapat disimpulkan. Penyajian data dilakukan dengan memaparkan semua data yang telah direduksi. Melalui penyajian data tergambar model penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat Cepokomulyo melalui pembentkan Kampung si Duta.
 

 HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Model Penguatan Peduli Lingkungan Hidup pada Masyarakat Cepokomulyo Melalui Pembentukan Kampung si Duta.

Kelurahan Cepokomulyo adalah kelurahan di wilayah Kecamatan Kepanjen. Letaknya yang berada tepat di jantung kota Kepanjen menyebabkan Kelurahan Cepokomulyo  tidak bebas dari masalah lingkungan, terutama sampah. Demikian juga tanah yang berada di sepanjang Sungai Sukun rawan longsor karena minimnya pepohonan. Pasar Sumedang yang beroperasi di malam hari menjadi produsen sampah terbesar di Kepanjen.
Melihat kenyataan tersebut, masyarakat Cepokomulyo, khususnya RW III yang dipimpin oleh Drs. Sunardi merasa terpanggil untuk mengatasi permasalahan tersebut.  Bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang, Aparat Pemerintah Kelurahan Cepokomulyo, SMPN 2 Kepanjen dan warga Kelurahan Cepokomulyo yang diwakili oleh para ketua RT, bermusyawarah dalam acara “Jagong Mathon” yang diselengarakan tanggal 18 November 2018 untuk memecahkan masalah lingkungan hidup. 
Dalam musyawarah tersebut, DLH menegaskan bahwa sudah menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan. Seluruh lapisan masyarakat harus memiliki sikap peduli pada lingkungan hidup. Artinya pemerintah dan  masyarakat harus bekerja sama merumuskan formula untuk mengedukasi masyarakat agar berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab dalam upaya pelestarian lingkungan. 
Berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah berkaitan dengan lingkungan hidup, misalnya Lomba Desa Berseri yang diselenggarakan setiap tahun dan Progaram Sekolah Adiwiyata. Harapannya seluruh komponen bangsa, mulai dari pemerintahan pusat sampai daerah ditunjang oleh lembaga pendidikan dan masyarakat berpartisipasi aktif dalam upaya pelestarian lingkungan. Hasil dari musyawarah tersebut disepakati model penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat Cepokomulyo yang berbasis kearifan lokal adalah pembentukan Kampung si Duta, Kampung Edukasi Adiwiyata. 
Kampung si Duta adalah kampung yang berupaya mengedukasi masyarakat untuk memiliki karakter peduli pada lingkungan hidup yang berbasis kearifan lokal. Program Kampung si Duta membidik masyarakat untuk selalu proaktif dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Kegiatan utama adalah mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemanfaatan pekarangan dengan tanaman produktif, kelola sampah, konservasi lahan kritis, keterampilan produktif, perilaku hidup bersih dan sehat, serta peningkatan budaya baca. Dinas /instansi terkait melakukan pendampingan dalam kegiatan. Pendampingan dilakukan sampai Kampung si Duta bisa melaksanakan kegiatan secara mandiri.
 Sosialisasi Kampung si Duta dilaksanakan pada hari Minggu, 25 November 2018, yang ditandai dengan senam massal, gerak jalan sehat, dan kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar dan bantaran Sungai Sukun. Masyarakat sangat antusias mengikuti kegiatan yang disponsori oleh Indomaret tersebut, terbukti dari membeludaknya peserta hingga panitia kehabisan kupon jalan sehat. Pada kegiatan tersebut warga mendapatkan bantuan bunga pucuk merah untuk ditanam sebagai tanaman peneduh di sepanjang Jalan Locari, yang diserahkan secara simbolis oleh Kepala SMPN 2 Kepanjen, Bunda Hanik Lifdiati, M.Psi kepada Kepala Kelurahan Cepokomulyo, Ibu Nita Dwi Prasetya, S.STp.
Kampung si Duta memiliki 4 kelompok kerja (pokja). Keempat pokja tersebut adalah, 
(1) Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang berlokasi di RT 23, (2) Bank Sampah di RT 26, (3) Keterampilan Produktif di RT 25, dan (4) Pemberdayaan di RT 24. Pokja TBM  bertugas menyediakan bahan bacaan berkaitan dengan masalah pelestarian lingkungan. TBM bertujuan untuk mengembangkan  budaya baca masyarakat. Pokja Bank Sampah LOECARI (lingkungan orang-orang elok, ceria, agamis, resik dan indah) bertugas memberikan edukasi kepada masyarakat untuk mengelola sampah dengan benar. Sampah organik diproses menjadi kompos,dan menampung sampah anorganik untuk ditabung. Tabungan dibagikan menjelang lebaran dalam bentk uang. Pokja Keterampilan Produktif bertugas melatih ibu-ibu dengan berbagai keterampilan dan kerajinan dari sampah anorganik serta mengolah bahan pangan. Kerajinan yang telah jadi dijual untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Pokja Pemberdayaan bertugas melatih warga mengolah sampah organik menjadi kompos. Selain itu juga bertugas untuk menghijaukan wilayah RT 24 yang masih minim tanaman dengan


tanaman produktif untuk meningkatkan gizi keluarga, misalnya bayam, kangkung, tomat, dll. Warga RT 24 juga telah mengecat tembok dan pagar dengan cat warna-warni yang membuat lingkungan  bertambah indah. Setiap hari Sabtu, pokja Pemberdayaan bergotong royong melaksanakan kerja bakti membersihkan lingkungan sekitarnya.
Kegiatan rutin lainnya yang lakukan dalam upaya memberikan penguatan peduli lingkungan hidup adalah dengan mendatangkan narasumber setiap satu bulan sekali, pada kegiatan yang dibutuhkan masyarakat. Kegiatan tersebut diantaranya adalah sosialisasi diet kantong plastik dengan narasumber dari SMPN 2 Kepanjen yang dilaksanakan pada 18  Desember 2018. Pada tanggal  9 Januari 2019 dilaksanakan edukasi tentang tanaman produktif dengan narasumber dari Dinas Pertanian. Pelatihan keterampilan daur ulang dilaksanakan pada tanggal 10 Februari dengan narasumber Ibu Wahyu Setyani, M.Pd dari LSM. Pada 8 Maret 2019 dilaksanakan sosialisasi pencegahan penyakit DBD dengan narasumber dari Puskesmas Kepanjen. Sosialisasi pola hidup bersih dan Sehat (PHBS) dilaksanakan pada tangal 15 April 2019 dengan narasumber bidan Desa Cepokomulyo.
Kegiatan yang dilaksankan di kampung si Duta telah terprogram. Kegiatan tersebut
dilaksankan secara berkelanjutan dan dicatat dan didokumentasikan dengan tertib. 

3.2 Kendala yang dihadapi dalam penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat Cepokomulyo melalui pembentukan Kampung si Duta.

Meskipun telah terprogram dan didukung oleh berbgai pihak, bukan berarti pelaksanaan kegiatan di Kampung si Duta tanpa kendala. Kendala tersebut sangat terasa di awal pembentukan Kampung si Duta. Kendala-kendala tersebut adalah sebagai berikut.
1)     Masih ada warga yang enggan mengikuti kerja bakti meskipun dilaksankan di hari minggu dengan berbagai alasan, misalnya capek, bangun kesiangan, lembur dll.
2)     Mayoritas warga belum bisa mengurangi kebiasaan merokok.
3)     Warga yang masih suka membuang sampah di sungai.
4)     Masih banyak warga yang menjual sampah anorganiknya pada pemulung dengan alasan harganya lebih mahal daripada di Bank Sampah LOECARI. 
5)     Ayam milik warga dibiarkan berkeliaran sehingga kotorannya mengganggu kebersihan lingkungan serta mengakibatkan pertengkaran antar warga.
6)     Bahan pustaka di TBM masih minim sehinga perlu ditambah jumlah dan jenisnya.
7)     Kesulitan mengatasi sampah plastik bungkus makanan yang tidak bisa didaur ulang.
 

3.3 Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat Cepokomulyo melalui pembentukan Kampung si Duta.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat Cepokomulyo untuk mengatasi kendala yang ditemui berkaitan dengan kegiatan Kampung si Duta. Upaya tersebut adalah dengan mengadakan musyawarah dengan seluruh warga di Balai RW III Kelurahan Cepokomulyo. Dari musyawarah tersebut diperoleh kesepakatan sebagai berikut.
1)  Warga yang tidak bisa mengikuti kerja bakti wajib mengirimkan pengganti dari pihak keluarga, misalnya anak atau saudaranya. Jika tidak memungkinkan maka wajib memberikan konsumsi. Selain itu sanksi sosial yaitu tidak akan mendapatkan pelayanan administrasi yang berkaitan dengan kependudukan.
2)  Himbau untuk warga yang belm bisa mengurangi/menghilangkan kebiasaan merokok, karena berdapak buruk bagi kesehatan dirinya sendiri juga orang lain di sekitarnya.
3)  Warga yang masih membuang sampah di sungai didenda Rp 10.000 /pelanggaran yang dicatat oleh ketua RT masing-masing.
4)  Penyesuaian harga sampah anorganik di bank sampah dan mengingatkan warga untuk tidak sekedar mencari untung, namun kebersamaan dan kegotong-royongan.
5)  Ternak wajib dimasukkan dalam kandang, jika tidak maka dikenakan sanksi sosial yaitu tidak mendapatkan pelayanan administrasi kependudukan.
6)  Membuat proposal bantuan bahan pustaka ke perpustakaan desa.
7)  Bekerja sama dengan Bank Sampah Kavterin yang telah memiliki kerjasama dengan PT Unilever sebagai produsen aneka produk kebutuhan rumah tangga berbungkus plastik.

IV.    SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan
1)  Model penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat Cepokomulyo melalui pembentukan Kampung si Duta.
     Pendampingan dari dinas/instansi terkait sampai Kampung si Duta bisa mandiri dalam melakukan kegiatan.
     Pembentukan pokja di setiap RT, yaitu Pokja TBM, Pokja Pemberdayaan, Pokja Keterampilan Produktif serta Pokja Bank Sampah.
     Setiap pokja bertanggung jawab penuh pada kegiatan masing-masing yang telah terprogram dan dilaksanakan secara berkelanjutan
     Mengadakan pendidikan dan pelatihan dengan mendatangkan narasumber sesuai dengan kegiatan yang diperlukan masyarakat

2)  Kendala yang dihadapi dalam penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat Cepokomulyo melalui pembentukan Kampung si Duta.
     Belum semua warga berpartisipasi aktif dalam kegiatan.
     Mayoritas warga belum bisa mengurangi/menghilangkan kebiasaan merokok.
     Masih ada warga membuang sampah di sungai. Warga lebih suka menjual sampah pada pemulung  Ayam masih banyak yang berkeliaran.
     Bahan pustaka di TBM masih minim..
     Kesulitan mengatasi sampah plastik.

3)  Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat Cepokomulyo melalui pembentukan Kampung si Duta.
     Selalu mengedepankan musyawarah untuk mufakat dan gotong royong Berkoordikasi dengan dinas/instansi terkait  untuk mengatasi permasalahan.
     Adanya sanksi material maupun moral bagi warga yang melanggar peraturan

4.2 Saran
     Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan atau tambahan wawasan bagi dinas/instansi terkait sebagai model penguatan peduli lingkungan hidup pada masyarakat.
     Dapat ditidaklanjuti sebagai kajian keilmuan pada penelitian sejenis pada masa yang akan datang. 










DAFTAR PUSTAKA
Sabartiyah. 2008. Pelestarian Lingkungan Hidup. Jakarta : CV Pamularsih
Sugiyono. 2010. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : CV Alfabeta
................. 2011. Metode Penelitian. Bandung : CV Alfabeta
UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Winarti. 2008. Bentuk Konservasi Alam. Klaten : CV Cempaka Putih

Essai MendidikGenerasi Milenial

Mendidik Generasi Milenial
Oleh : Purwantiningsih 
Guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Kepanjen



Pengantar
     Saat istirahat selepas melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)  adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh guru. Betapa tidak, pada saat itulah guru akan bercanda untuk sekedar melepaskan penat, berbagi pengalaman mengajar dengan sesama guru, berkeluh kesah, membicarakan keberhasilan atau ketidakberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Kalimat yang sering muncul pada saat itu adalah pertanyaan retoris, yang sebenarnya ditujukan untuk diri kita sendiri sebagai guru. Mengapa anak-anak sekarang sulit diatur, sulit menerima pelajaran, suka membangkang, meremehkan guru, bahkan banyak yang “melarikan diri” saat KBM dengan berbagai alasan. Tidak seperti zaman kita dulu, anak didik begitu tawadu’ pada guru, apapun yang diperintahkan oleh guru mereka akan langsung mengerjakannya tanpa banyak bertanya. Kelas pun begitu tenang, tertib, tanpa banyak yang bicara. Guru dengan leluasa memainkan perannya sebagai sutradara dan pemeran utama.
     Untuk sejenak kita lupa bahwa zaman kita dengan mereka sudah berbeda. Menjadi guru pada zaman dulu berbeda dengan menjadi guru zaman sekarang. Yang dihadapi berbeda, tuntutan zaman pun juga berbeda. Yang masih sama adalah predikat guru.
     Guru, Kudu bisa digugu lan ditiru. Digugu berarti dipercaya dan ditiru berarti diteladani atau dicontoh. Menjadi guru berarti harus bisa dipercaya dan memiliki tingkah laku yang dapat  diteladani. Seperti kata Sang Maestro Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, bahwa sosok seorang guru harus bisa Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Sebuah kalimat yang memiliki makna sangat dalam. Kata guru dalam bahasa jawa memiliki makna yang tidak hanya tersurat dalam kata, namun juga tersirat dibalik kata. Sungguh sebuah kata yang bermakna luar biasa. Dapatkah kita sebagai guru mengimplementasikannya? Kalau pertanyaannya dapatkah, maka tentu saja jawabannya adalah dapat, karena sejak awal tentu kita sudah nawaitu untuk menjadi guru. Namun, dapat saja belum cukup, karena tolok ukur sebenarnya adalah kualitas  kinerja kita sebagai guru, sudahkah dapat digugu dan ditiru? Mampukah kita memahami bahwa anak didik zaman dulu berbeda dengan anak didik zaman sekarang?

Abad 21
     Rosyada mengatakan bahwa saat ini kita berada di abad 21. Abad ini  merupakan awal milenium ketiga dalam sejarah umat manusia. Pada milenium ini dunia melakukan banyak perubahan kebijakan hubungan antar negara. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa setiap kepala negara  menyadari bahwa setiap negara tidak akan sanggup mencukupi kebutuhan dan permintaan warganya, dan setiap negara harus bersama-sama mengelola dunia untuk warga dunia. Tidak semua negara memiliki semua yang dibutuhkan warganya. Ada negara yang kuat di sektor pertanian, namun lemah di cadangan mineral. Ada negara yang kuat dalam cadangan mineral, namun sebaliknya lemah dalam pertanian. Bahkan ada yang kuat dalam cadangan kekayaan alam, kuat dalam pertanian, tapi lemah dalam penguasaan teknologi. Kondisi demikian menyebabkan negara-negara berada dalam kondisi saling membutuhkan satu sama lain, khususnya untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya, termasuk Indonesia (2017). Hal inilah yang menyebabkan pentingnya hubungan bilateral maupun multilateral antar negara.
     Pada milenium ketiga ini, dimana para remaja dan pelajar disebut sebagai generasi milenial, berada pada masa “mendunia”. Segala bentuk transformasi budaya, bahasa, dan teknologi akan dengan mudahnya masuk ke negara kita. Hal inilah yang menyebabkan anak didik zaman sekarang berbeda dengan anak didik zaman dulu. Generasi milineal mengalami banyak perubahan psikologis dan sosiokultural akibat kemajuan teknologi.
     Dengan semakin terbukanya hubungan antar negara di era global ini, maka akan semakin besar pula pengaruhnya pada sektor pendidikan. Guru harus bisa  mempersiapkan anak didiknya untuk menghadapi milenium ketiga ini. Guru harus mendesain pembelajaran sedemikian rupa hingga anak didiknya yang nota bene adalah generasi milenial memiliki keterampilan abad 21. Keterampilan tersebut adalah sebagai berikut.

1.    Mampu berkolaborasi dengan siapa saja. Oleh karena itu mereka harus memilki kompetensi menghargai perbedaan dengan baik, pengetahuan, sikap, dan tindakan.
2.    Mampu berkomunikasi global, mampu menggunakan bahasa yang bisa difahami oleh masyarakat dunia, baik komunikasi verbal, maupun tulisan.
3.    Mampu menguasai teknologi informasi dengan baik, untuk akses informasi, komunikasi, penyampaian informasia untuk menyimpan data yang bisa dibuka setiap setiap saat, dan bisa diakses kapan saja, di mana saja, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai media yang sangat membantu dalam proses pembelajaran.
4.    Mampu berfikir kritis, mengubah masalah menjadi kesempatan untuk maju, berfikir kreatif inovatif dan bahkan memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dengan baik, yang semua ini bisa dikembangkan dengan pelatihan yang terintegrasi dalam proses pembelajaran, atau dalam kegiatan ekstra kurikuler.

     Jika anak didik kita diharapkan memilki keterampilan abad 21, maka guru pun juga demikian. Guru harus terus mengembangkan diri, guru pun harus terus belajar, memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi infrormasi, berlomba dengan waktu, agar tidak ditinggal oleh waktu. Jangan hanya memberi tugas anak didik untuk membaca dan menulis. Guru pun harus membaca dan menulis. Mari mendidik  anak-anak kita sesuai dengan zamannya. Jangan terjebak oleh kemapanan yang sudah kita nikmati saat ini.
     Sebagai guru, kita harus faham bahwa anak didik kita mengalami banyak perubahan.  Seperti yang dikemukakan oleh Rosyada (2017) bahwa pelajar mengalami perubahan yang disebabkan oleh semakin tumbuh dan berkembangnya teknologi. Perubahan-perubahan tersebut, antara lain adalah sebagai berikut. 
1.   Anak didik menyukai adanya kontrol. Generasi milenial tidak menyukai terikat oleh jadwal- dan juga tidak menyukai duduk di dalam kelas untuk belajar.  Sebaliknya mereka lebih menyukai belajar mandiri dengan menggunakan alat komunikasi yang bisa menjangkau dunia yang tak terbatas. Dengan caranya sendiri, mereka akan memperoleh informasi dari berbagai sumber di dunia. Dengan demikian, mereka harus dikontrol target pencapaian pengetahuannya, proses belajarnya dan hasil yang mereka dapatkan.
2. Anak didik juga menyukai banyak pilihan. Untuk pembelajaran berbasis project, yakni tugas melakukan mini riset, mereka akan menggunakan teknologi untuk memperoleh banyak informasi. Mereka harus diberi kebebasan untuk memilih metode dan teknik-teknik untuk untuk menyelesaikan project tersebut sampai pada akhirnya mereka  akan mampu menyusun laporan.
3.  Anak didik menyukai ikatan kelompok dan ikatan sosial, yang dibangun melalui media sosial mereka. Mereka memiliki jejaring  yang dinamis, dan jika mereka manfaatkan untuk menjadikan jejaringnya sebagai peer assesment, maka mereka akan memiliki pengelaman keilmuan yang jauh lebih baik, daripada tutorial atau mentoring dalam satu kelas saja. 4. Anak didik terbiasa dengan teknologi digital.
5.    Anak didik tidak berfikir tentang teknologi tetapi bagaimana menggunakan teknologi.
6.   Anak didik lebih menyukai eksperimen dalam pemanfaatan teknologi, jika gagal dalam satu kali penggunaan, mereka akan coba lagi, dan terus mencoba sampai mereka berhasil.

Guru Harus Profesional
     Bertolak dari perubahan yang terjadi pada anak didik, maka guru harus profesional dalam menyiapkan anak didik agar mereka siap menjadi generasi milenial yang menguasai berbagai keterampilan abad 21.
      Mulyasa mengatakan bahwa menjadi guru profesional harus memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogig, kepribadian, profesional, dan sosial (2011:27).
   Kompetensi pedagogig berkaitan dengan kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran. Kompetensi kepribadian berkaitan dengan kepribadian yang harus dimiliki oleh seorang guru yaitu mantab, stabil, dewasa disiplin, berwibawa, berakhlak mulia serta dapat menjadi teladan bagi anak didiknya. Kompetensi profesional berkaitan dengan penguasaan disiplin keilmuan yang dimiliki guru untuk memilah dan memilih materi pembelajaran. Sedangkan kompetensi sosial berkaitan erat dengan kemampuan guru menjalin komunikasi dengan masyarakat serta guru sebagai agen perubahan sosial. Empat kompetensi inilah yang menjadikan guru sebagai sosok yang bisa digugu dan ditiru.
    Wacana tentang profesionalisme guru kini menjadi sesuatu yang mengemuka ke ruang publik seiring dengan tuntutan untuk meningkatkan mutu pendidikan di tanah air. Oleh banyak kalangan mutu pendidikan kita dianggap masih rendah karena beberapa indikator diantaranya adalah  lulusan dari sekolah dan perguruan tinggi yang belum siap memasuki dunia kerja karena minimnya kompetensi yang dimiliki. Bekal kecakapan yang diperoleh di lembaga pendidikan belum memadai untuk digunakan secara mandiri, karena yang terjadi di lembaga pendidikan hanya transfer of knowledge semata yang mengakibatkan anak didik tidak inovatif, kreatif bahkan tidak pandai dalam menyiasati persoalan-persoalan di seputar lingkungannya. Belum lagi maraknya kasus bullying guru oleh anak didik dan sebaliknya. Ini membuktikan bahwa tujuan pendidikan untuk membentuk watak budi pekerti yang mulia belum sepenuhnya bisa diwujudkan.
     Guru menjadi fokus utama dari kritik-kritik atas rendahnya mutu pendidikan, namun pada sisi lain guru juga menjadi sosok yang paling diharapkan dapat mereformasi pendidikan, menjadi agen perubahan yang mampu menumbuhkembangkan karakter mulia anak didiknya. Guru menjadi mata rantai terpenting yang menghubungkan antara pengajaran, pendidikan dengan harapan akan masa depan pendidikan yang lebih baik.

Bagaimana Mendidik Generasi Milenial?
Ternyata menjadi guru profesional saja tidak cukup untuk menyiapkan generasi milenial menguasa keterampilan Abad 21. Peningkatan profesionalisme yang ditandai dengan sertifikasi dan tunjangan profesi, kehadiran dan jumlah jam mengajar guru di kelas belumlah cukup untuk mendidik generasi milenial. Guru harus melakukan reframing rancangan pembelajaran dan mengelola pembelajaran abad 21 yang komprehensif. Seperti yang diungkapkan oleh Supriadi (2018) bahwa pembelajaran abad 21 memiliki prinsip pokok bahwa pembelajaran harus berpusat pada siswa yang bersifat kolaboratif, kontekstual, dan berintegrasi dengan masyarakat. Guru harus menyadari bahwa hakikat pendidikan adalah mengubah cara berfikir, bersikap, bertindak serta membina keahlian yang semuanya hanya bisa dilakukan dengan pendekatan ilmu dan teknologi. Oleh karena itu, pendidik generasi milenial  harus memiliki karakter sebagai berikut.

1.        Memiliki semangat juang dan etos kerja yang tinggi disertai kualitas keimanan dan ketakwaan yang mantap.
2.        Mampu memanfaatkan iptek sesuai tuntutan lingkungan sosial dan budaya di sekitarnya.
3.        Berperilaku profesional tinggi dalam mengemban tugas dan menjalankan profesi.
4.        Memiliki wawasan ke depan yang luas dan tidak picik menghadapi permasalahan.
5.        Memiliki keteladanan moral serta rasa estetika yang tinggi.
6.        Mengembangkan prinsip kerja bersaing dan bersanding.

     Di samping harus memiliki karakter tersebut, dalam melaksanakan tugasnya guru harus ditunjang dengan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran, yakni  aspek lingkungan belajar, yakni ruang kelas yang mendukung proses pembelajaran, memiliki sudut baca, kursi dan meja belajar yang mudah diubah formasinya, perpustakaan utama, laboratorium serta sarana lain yang mendukung untuk anak didik melakukan aktivitas, baik beribadah, berolah raga, bermain, beristirahat dan juga tempat untuk makan dan minum. Sekolah juga harus memiliki konsep yang jelas tentang pengembangan profesi para guru, baik sistem peningkatan karir sesuai dengan produktifitas para guru. Sistem penugasan guru sebagai sebuah profesi, baik untuk mendidik, mendampingi anak didik belajar, mengevaluasi pencapaian belajar anak didik, dan juga perlindungan para guru dalam melaksakan tugas profesinya sebagai guru.
   Dengan demikian, proses pembelajaran memiliki dua fungsi, yakni peningkatan kompetensi berbasis ilmu dan teknologi, serta peningkatan kompetensi berbasis aktifitas belajar. Ketika guru menugaskanan anak didik untuk melakukan peer assesment, pada hakikatnya dia sedang mendorong anak didiknya untuk memahami materi yang mereka pelajari, menerimanya sebagai kebenaran baru dan membiasakannya dalam kehidupan sosial. Pada saat yang sama, guru juga melatih interpersonal mereka, melatih berkomunikasi, melatih sikap terbuka dan bahkan melatih anak didik untuk bisa menerima keberagaman.

     Dari uraian di atas jelaslah bahwa pendidikan berperan sangat strategis dalam mempersiapkan generasi milenial yang memiliki keberdayaan dan kecerdasan emosional yang tinggi serta menguasai keterampilan  Abad 21 yaitu berfikir kritis, kreatif dan inovatif, komunikatif serta kolaboratif. Sudah siapkah kita menjadi guru yang mampu menghasilkan pemimpin-pemimpin di masa depan?


DAFTAR RUJUKAN

Mulyasa, E. 2011. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Rosdakarya.

Rosyada, Dede. 2017. Menjadi Guru di Abad 21. Artikel. Https://www.uinjkt.ac.id

Supriadi, 2018. Guru dan Tantangan Pendidikan Abad 21. Artikel.





Top